}); Mengelola Sampah Mungkin Tidak Sulit, Mengelolanya(?) - KAPITANEWS

Mengelola Sampah Mungkin Tidak Sulit, Mengelolanya(?)



Kapitanews.com, Deli Serdang- Saat ini Kota Medan sedang dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan akibat polusi dan ditambah lagi efek dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan. Akhir-akhir ini Pemerintah Kota Medan semakin sering membuat himbauan-himbauan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga lingkungan, khususnya kebersihan lingkungan. 

Bersamaan pula dengan program World Clean Up Day 2019 yang dilaksanakan secara serentak di 157 negara di dunia, Sekolah Alam Bukit Hijau pun turut mengambil bagian menjadi relawan dan berpartisipasi mendukung gerakan bersih-bersih lingkungan. Kegiatan tersebut dilaksanakan sejak pukul 08.00 oleh warga Sekolah Alam Bukit Hijau mulai dari murid SD, guru, kepala sekolah, dan pihak Yayasan Pendidikan dan Lingkungan Hidup Bukit Hijau. Tidak hanya itu, orangtua juga turut berpartisipasi sekaligus mendampingi anak-anak. Orangtua siswa, Dameria Gea menjelaskan bahwa membiasakan anak-anak terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan akan membangun budaya tersebut dengan sendirinya.

Sampah yang menjadi fokus Sekolah Alam adalah sampah plastik dan sampah yang sulit untuk dilebur. Sementara sampah dedaunan dan tumbuhan tidak menjadi target karena akan diolah dan dijadikan pupuk.

Sekolah yang terletak di perbatasan Kota Medan dan Deliserdang tersebut tidak hanya sekedar prihatin soal kondisi kebersihan sekitar, melainkan juga turut bergerak melakukan aksi dalam menciptakan budaya cinta lingkungan. Pertama-tama kegiatan kebersihan berpusat di sekitar sekolah, kemudian lapangan yang biasa dimanfaatkan masyarakat sekitar kecamatan Medan Tuntungan yang lokasinya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena memang  lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah. Walau relawan yang didominasi oleh anak-anak ini ada yang merasa kelelahan berjalan, tapi karena bersama-sama mereka tetap semangat.  Tidak sulit menemukan sampah plastik yang sudah bergumul dengan tanah di tengah maupun pinggir lapangan serta parit kecil dekat lapangan, seperti cup air mineral, botol minuman, plastik sisa sampah makanan, dan kantongan plastik. Ada berkarung-karung sampah yang akhirnya berhasil dikumpulkan siswa SD Sekolah Alam Bukit Hijau.

Berjalan ke arah belakang lapangan terlihat lekukan tanah seperti lembah-lembah dengan lautan sampah di dalamnya. Aroma  busuk begitu tajam dan menyengat. Padahal lembah sampah tersebut berbatasan dan bertemu langsung dengan perladangan dan pemukiman  masyarakat. Apalagi lokasinya yang tidak sampai 1 kilometer dari lokasi sekolah tentu merupakan hal yang memprihatinkan. 

“Kita sangat khawatir dengan kondisi ini sebenarnya dan kita sudah pernah menyurati hal ini dulu, tapi kita belum menemukan solusi itu sampai hari ini. Tapi kami tidak mau menunggu. Kami tetap berbuat apa yang kami bisa. Tanam pohon terus secara berkala untuk membantu menyaring udara. Memanfaatkan barang-barang bekas sebagai kreatifitas yang bermanfaat, menghimbau orangtua siswa untuk tidak menggunakan wadah sekali pakai dalam pengemasan bekal siswa,  dan apa yang bisa kami lakukan dalam bentuk keseriusan kami terhadap pelestarian lingkungan, kami maksimalkan semampu kami”, jelas Karlina Patricia Kepala Sekolah Alam Bukit Hijau. 

Dalam radius 2 kilometer dari lokasi lembah dengan tumpukan sampah membukit tersebut berdiri beberapa sekolah. Ada SD negeri, SD swasta dan TK/PAUD. UPTD Budidaya Balai Benih Ikan Kota Medan pun lokasinya hanya berjarak lebih kurang 1 kilometer dari lokasi tumpukan sampah. 

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat sekitar, sampah tersebut ternyata bersumber dari masyarakat Kota Medan. Lokasi itu dijadikan sebagai salah satu lokasi pembuangan akhir sampah di Kota Medan. Dapat dibayangkan bila virus terbawa ke udara dan berkembang pada tubuh makhluk hidup di sekitarnya karena memang sampah tersebut hanya dibiarkan dan tidak melalui proses pengolahan. 

Pampers yang penuh kotoran juga terpampang nyata di sana. Ini sebenarnya menjadi PR besar bagi pemerintah mulai dari tingkat kelurahan hingga Kota Medan. Karena sampah bisa saja dikumpulkan, tapi kemudian untuk apa dan bagaimana sampah itu dikumpulkan bukanlah hal yang dapat dijawab pada hari ini. Mulai memikirkan dan membuat sebuah terobosan dan langkah untuk melakukan pengelolaan sampah adalah satu-satunya solusi yang harus dikebut. (rdw)
Share on WhatsApp

VIP Redaksi KAPITAnews.com

Situs Berita Online
https://www.kapitanews.com/
"Pusat Berita Terpercaya"
Ph:0853-7100-0720

0 komentar:

Posting Komentar