}); "Asahan Yang Melawan" - KAPITANEWS

"Asahan Yang Melawan"



Kapitanews. Com-Sumatra Utara. "Asahan, diasah semakin tahan." Jargon ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Asahan yang beribu kota Kisaran, khususnya pemuda-pemuda yang lahir dan besarnya di Asahan. Jargon ini merupakan bagian daripada samangat positif bagi yang tumbuh dalam diri masyarakat Asahan saat menghadapi lika-liku kehidupan. Proses yang terus diasah membuat mampu untuk bertahan dalam mewujudkan potensi kebaikan. Baik itu kebaikan diri pribadi, masyarakat dan perbaikan (pembangunan daerah Asahan).

Jika diperkenankan saya sedikit ingin bicara sejarah Asahan yang saya ketahui dari berbagai sumber. Baik sumber tertulis, maupun dari ceritera-ceritera teman-teman yang ada di Kisaran-Asahan saat saya ngopi bersama mereka. Rasanya kopi tak berarti tanpa mendengarkan celotehan mereka tentang Asahan. Walaupun sebenarnya yang banyak diceritakan mereka adalah kondisi Asahan saat ini. Cerita yang mengandung unsur fesimisme melihat kondisi Indonesia secara nasional dan kondisi Asahan secara lokalnya.

Mengapa demikian? Karena sudut pandang dari teman-teman mayoritas dari sudut politik saat ini yang menyibukkan masyarakat. Ditambah lagi kebijakan-kebijakan yang dirasa tidak pro rakyat. Seperti kenaikan tarif BPJS dan lain-lain. Mohon maaf bukan bermaksud mengkritik Pemerintah saat ini. Ini benar apa adanya di masyarakat saat ini. Keluh kesah rakyat sudah mulai terdengar nyata.

Akan tetapi, dalam pembicaraan-pembicaraan kami setiap malamnya, ada juga pembahasan yang menambah semangat dalam berbuat sesuatu. Ada satu teman berpendapat dengan spontan mengatakan bahwa, sebenarnya banyak anak-anak negeri, khususnya anak-anak Asahan yang sudah tidak mengetahui bagaimana sejarah peradaban dan kebudayaannya. Akibatnya, jati diri anak negeri, sepeti pemuda, tidak lagi melekat dalam dirinya. Semua terhegemoni oleh pengaruh Revolusi Industri 4.0 yang segala macam bidang keipmuan dibangun pendekatan teorinya. Padahal tidak ada yang luar biasa dari itu selain mempertahankan jati diri anak bangsa sehingga nilai-nilai moralnya tidak tergerus. Bla...bla...bla...

Saya terkejut bukan main dengan celotehannya. Setiap kata yang ia ucapkan menambah ilmu pengetahuanku. Pemaparannya begitu dalam analisisnya dan tarikan sejarahnya sungguh luar biasa pabila semuanya saya tuliskan dalam kesempatan ini. Tapi, mohon maaf mendiskusikannya secara langsung lebih jauh luar biasa. Jika berminat bisa berkumpul dengan kami sekali-kali.

Ditinjau dari sejarah kebudayaannya, Asahan sungguh luar biasa peradaban dan kebudayaannya. Nama daerah Asahan konon katanya diambil dari nama sungai Asahan terdapat banyak batu. Batu itu adalah batu asah yang digunakan oleh orang-orang di sana untuk mengasah alat-alat pertanian dan alat-alat berburu atau alat-alat tajam yang dipergunakan lainnya. Batu asah yang berasal dari Asahan itu bukan hanya terkenal di daerah itu saja, akan tetapi batu asah itu sampai ke negeri-negeri lain.

Nah, secara sejarah pemerintahan atau tatanan kemasyarakatan di Asahan itu tidak lepas dari perjalanan Sultan Iskandar Muda dari kesultanan Aceh. Awalnya ia tinggal di Tanjung Balai kemudian menikahi salah seorang putri Raja Simargolang. Anak dari pernikahan Iskandar Muda dengan Puteri Raja Simargolang lahirlah seorang anak yang diberi nama Abdul Jalil. Anak itu pun dinobatkan menjadi Sultan I di Asahan.

Kesultanan Asahan dan masyarakatnya yang memegang teguh ajaran agama dan ada istiadatnya membuat Asahan jaya serta makmur. Akan tetapi, setelah Belanda masuk ke sana, maka Asahan pun mulai porak poranda. Kekayaan Asahan baik dari laut maupun darat dikuasa paksa penjajah. Kekayaan Asahan sekarang entah milik siapa dan entah untuk siapa.

Nah, sejarah inilah yang paling ditekankan oleh salah satu teman saya itu. Iya jauh kebelakang hari untuk menganalisis Asahan. Kondisi sekarang menurutnya adalah karena banyak tidak paham dan tidak lagi mengetahui sejarah peradaban Asahan. Ia berharap kiranya anak-anak muda Asahan melawan sesuatu yang membuat budaya dan peradaban Asahan hilang.

Efek negatif kecanggihan teknologi saat ini lebih menjamur dibanding efek positifnya. Kecanggihan teknologi saat ini pun antara menjadi peluang atau tantangan. Apakah budaya atau peradaban Asahan dapat dipertahankan serta dikembalikan ditengah jaman perbenturan budaya dengan cepat lewat sarana-prasarana tekhnologi informasi dan komunikasi.

Dari diskusi-diskusi yang selalu kami adakan, baik secara formal maupun non-formal dapat menambah wawasan yang sangat banyak. Membuka cakrawala berpikir. Salah satu teman lagi menegaskan bahwa jika melawan harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan. Di sinilah pentingnya literasi harus ditingkatkan.

Asahan yang melawan adalah pemuda-pemuda Asahan tetap mempertahankan budaya dan adat istiadat Asahan. Masyarakat yang heterogen, walau didominasi satu suku, bukan berarti penghalang untuk bersatu. Kebodohan dan pembodohan di Asahan harus dilawan oleh setiap kita. Kekayaan Asahan, baik secara materil maupun immaterial harus tetap dijaga. Siapa yang menjaga kalau bukan kita, terkhususnya para generasi-generasi muda.

Sekian dan terimakasih. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam tulisan ini. Mohon maaf jika tulisan ini juga belum dapat memuaskan teman-teman karena saya bukanlah alat pemuas. Lain kali kita sambung. Akhir kata, Asahan harus melawan. Melawan keburukan-keburukan dan kedzaliman yang terjadi di Asahan.[]



Penulis: Ibnu Arsib (Instruktur HMI dan Penggiat Literasi di Sumut).
Share on WhatsApp

VIP Redaksi KAPITAnews.com

Situs Berita Online
https://www.kapitanews.com/
"Pusat Berita Terpercaya"
Ph:0853-7100-0720

0 komentar:

Posting Komentar