}); Memahami Logika Rocky Gerung - KAPITANEWS

Memahami Logika Rocky Gerung



Kapitanews-Sumatra Utara.Kini publik kembali dihebohkan dengan pernyataan-pernyataan logika Rocky Gerung tentang Pancasila sebagai Ideologi Negara dan mengatakan bahwa Presiden Jokowi tidak paham Pancasila, terkhususnya mereka yang panatik terhadap obyek serangan logika Rocky Gerung. Belum lekang dari ingatan masyarakat, khususnya penggiat media sosial online atas pernyataan Rocky yang mengatakan bahwa kitab suci itu fiksi dalam suatu acara stasiun televisi swasta. Alhasil, pernyataan logika itu pun menjadi kontroversial, bahkan sehari sesudah Rocky mengucapkan bahwa kitab suci itu fiksi, ia dilaporkan ke pihak kepolisian oleh seseorang karena dianggap melecehkan kitab-kitab suci yang dianut umat-umat beragama di Indonesia ini.

Selanjutnya, tidak sedikit publik yang benar-benar menelaah pernyataan Rocky tersebut. Pernyataan Rocky bahkan dirinya sendiri menjadi bahan pembicaraan hangat di berbagai tempat dan di berbagai kalangan. Rocky dengan keberaniannya melabrak logika publik yang selama ini diterima apa itu arti fiksi dan mengapa Rocky berani mengatakan demikian. Saya secara pribadi berterimakasih pada Rocky atas pernyataan-pernyataannya membuat nalar masyarakat menjadi aktif.

Tindakan yang mengadukan Rocky ke pihak kepolisian ternyata berujung sia-sia. Ia tidak dapat dinyatakan bersalah dan tetap bisa eksis dalam perhelatan selama Pilpres 2019, bahkan tidak sedikit yang mengutip kata-katanya sebagai kata-kata bijak. Hingga sampai kini Rocky tetap eksis dan sering menjadi narasumber diberbagai kegiatan keilmuan dan masih tetap tampil di depan publik lewat layar televisi. Rocky juga tidak kalah keterkenalannya dengan tokoh-tokoh nasional dan para artis-artis di Indonesia saat ini.

Sebagaimana kalimat pembuka di atas tadi, kontroversi pernyataan logika Rocky Gerung kembali menggegerkan publik dan pihak yang merasa terganggu dengan pernyataan Rocky akan melaporkannya ke pihak kepolisian dengan tuduhan pencemaran nama baik Presiden dan terhadap Pancasila. Tidak sedikit politisi, seperti dari PDIP, Partai Hanura dan pihak-pihak lainnya merasa keberatan dan menganggap bahwa logika Rocky sangat nyeleneh. Akan kah kali ini Rocky berhasil untuk dimasukkan ke sel atas pernyataan-pernyataan logikanya? Hanya Sang Penentulah yang dapat menjawabnya.

Memahami Logika Rocky Gerung
Bagi orang-orang yang terbiasa dalam dunia filsafat, pernyataan-pernyataan Rocky tidaklah menjadi hal yang baru. Kontruksi bangunan logika dalam pernyataannya yang melabrak logika publik hal yang sudah biasa-biasa saja. Akan tetapi, karena kebanyakan yang menanggapinya adalah orang-orang yang tidak memahami filsafat dan atau orang-orang yang tidak pernah terlibat dalam kajian-kajian filsafat, logika Rocky akan dikatakan nyeleneh bahkan dikatakan sesat.

Yang kita sayangkan juga saat ini, lawan-lawan debat Rocky bukan orang yang benar-benar memahami filsafat. Mengapa demikian? Buktinya adalah argumen Rocky bukan ditanggapi dengan argumen dan logika yang kuat. Akan tetapi, dengan sentimen-sentimen dan atas dasar ketidak-sukaan karena kepentingannya mungkin terganggu. Bahkan, akal sehat kelompok fanatik yang diserang oleh logika Rocky sudah tidak dapat dibuka lagi. Benar memang kata Napoleon Bonaparte bahwa akal sehat tidak bisa masuk lagi pada orang-orang panatik terhadap sesuatu.

Memahami dan merenungi pernyatan-pernyataan Rocky rasanya kembali pada belajar filsafat dan logika dasar. Saya dapat mengatakannya karena hal-hal yang disampaikan oleh Rocky Gerung itu atas dasar filsafat, logika dan khususnya sering ia menggunakan semantik atau bermain kata-kata. Orang-orang yang tak mampu menangkap itu, atau orang yang tidak pernah belajar filsafat akan tidak mampu mencernanya. Sebagaimana kita lihat lawan-lawan debatnya dan orang-orang yang menanggapi Rocky hingga sampai melapor kepada pihak kepolisian.

Jika kita hendak memahami konstruksi logika Rocky Gerung atas pernyataan-pernyataannya setiap ia berucap tidaklah susah memahaminya. Logika Rocky Gerung sendiri menurut saya dapat dipahami dengan Logika Formal yang menggunakan cara berpikir deduktif dan Logika Material dengan cara berpikir induktif. Mundiri (2000) menjelaskan bahwa, Logika Formal dengan cara berpikir deduktif adalah mempelajari dasar-dasar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan mempergunakan hukum-hukum, rumus-rumus, dan patokan-patokan berpikir benar. Sedangkan Logika Material dengan cara berpikir induktif mempelajari dasar-dasar persesuaian pikiran dengan kenyataan.

Selanjutnya, untuk memahami kata-katanya diperlukan pemahaman semantik. Di mana definisi semantik ini adalah cabang linguistik yang mempelajari arti atau makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode atau jenis representasi lainnya. Dengan semantik ini kita dapat mempelajari tentang makna.

Nah, di daerah ini (semantik) Rockyi banyak bermain sehingga retorikanya indah serta mudah dipahami. Rocky mengartikan kata-kata menurut definisinya sendiri yang ia kawinkan dengan pengetahuannya yang sangat luas dalam filsafat dan sejarah. Rocky dengan kelihaiannya memainkan kata-kata dan bahasa kemudian melabrak definisi yang selama ini dipahami dan digunakan masyarakat. Bagi yang rendah pengetahuannya dalam hal ini akan merasa terganggu dan kebakaran jenggot karena makna yang selama ini dipahami tidak pernah mencari apa arti sebenarnya.

Contohnya adalah tentang term fiksi. Jika karena tidak Rocky, fiski akan dianggap sama dengan fiktif, padahal itu berbeda walau katanya hampir sama. Dan yang terakhir ini adalah tentang ideologi Pancasila yang dikatakan sebagai ideologi negara. Bagi Rocky, negara tidak ada yang berideologi, karena yang berideologi adalah manusia karena memiliki akal, di mana tempat ideologi itu adalah pikiran. Sedangkan negara adalah abstrak bagi Rocky Gerung sehingga tidak mungkin berideologi. Kemudian Rocky Gerung mengatakan bahwa Pancasila belum final karena yang final itu di akhirat. Nah, sampai disini Rocky memainkan logika lagi. Bagaimana kebenaran dan kesalahan atas pernyataan-pernyataan Rocky Gerung tidak bisa diadili dengan cepat tanpa memiliki basic keilmuan seperti yang dimiliki Rocky.

Terkait fenomena Rocky Gerung ini, saya teringat dengan pernyataan-pernyataan Nurcholish Madjid atau Cak Nur di tahun 70-an sampai 80-an yang menjelaskan tentang makna dari kata; “Sekuler”, “Sekularis” dan  “Sekulerisme” serta “Liberal”, Liberalis” dan “Liberalisme”. Kala itu Cak Nur dituduh melenceng dari ajaran agama Islam dan dituduh mengartikan kata-kata semaunya.

Kesimpulan

Untuk mengadili Rocky Gerung tidak dapat diadili di peradilan hukum dan diperiksa oleh pihak kepolisian. Menurut saya, peradilan yang layak untuk membedah dan mengkaji terkait masalah ini adalah di ranah keilmuan. Jika hal ini diseret ke pihak kepolisian dan lembaga peradilan hukum kemudian ditetapkan bersalah yang berujung di penjara, itu artinya tragedi Socrates, Galileo Galilei dan filsuf-filsuf yang dipenjara akan kembali lagi.

Untuk memahami logika dan pernyataan Rocky tidak dapat dengan sentimen-sentimen apalagi atas dasar kepentingan politik yang panatik. Logika Rocky harus diuji dengan berargumen dan menggunakan filsafat. Karena dengan cara itulah kesalahan dan kebenaran logika akan terungkap. Karena, apa yang dilakukan Rocky bukan perbuatan jahat sebagaimana definisi dalam hukum pidana.

Dan yang terakhir, untuk kita semua rakyat Indonesia. Apa yang kita pahami selama ini belum tentu benar dan harus dipelajari secara kritis. Perlu menghidupkan nalar kritis agar tidak merasa kebakaran jenggot ketika mendapat pengetahuan baru dari orang lain yang mau berpikir dan menggali suatu ilmu pengetahuan. Kemudian sebagai masyarakat awam, dalam ranah keilmuan kembalikanlah penyelesaiannya pada ranah keilmuan. Kita perlu mengkaji dan menggali ilmu pengetahuan sedalam-dalamnya, baik itu ilmu agama, sejarah, filsafat, bahasa dan bidang ilmu lainnya. Mudah-mudahan kita semakin kritis dan cerdas akan sesuatu hal. Amiin![]



Penulis: Ibnu Arsib (Penggiat Literasi di Sumut).


Ket: Tulisan ini sudah pernah dimuat di Kolom Opini Harian Analisa, 16 Desember 2019.
Share on WhatsApp

VIP Redaksi KAPITAnews.com

Situs Berita Online
https://www.kapitanews.com/
"Pusat Berita Terpercaya"
Ph:0853-7100-0720

0 komentar:

Posting Komentar