}); Prof. Dr. H. Abbas Pulungan, Aktifis, Pendidik dan Peneliti; Memoar Ketua PW ISNU Sumut - KAPITANEWS

Prof. Dr. H. Abbas Pulungan, Aktifis, Pendidik dan Peneliti; Memoar Ketua PW ISNU Sumut

Almarhum Prof. Dr. H. Abbas Pulungan

Pembentukan Diri  

Perjalanan panjang  kehidupan itu telah dilewati oleh seorang tokoh yang gigih, ulet, dan terus bergerak mengabdikan dirinya dalam berorganisasi dan pendidikan. Dua hal ini menjadi dunianya yang ditekuni sejak mahasiswa hingga mengantarkan dia menjadi seorang guru besar di UIN Sumatera Utara dan aktifis/organisatoris dalam pergerakan sebuah ormas terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU). Beliau adalah Prof. Dr. H. Abbas Pulungan (baca, Pak Abbas). Sosoknya sebagai tokoh pendidik begitu dikenal tidak saja di Perguruan Tinggi di Sumatera Utara (Sumut), tetapi juga di luar Sumatera Utara, bahkan tidak saja sebagai tokoh pendidik, dunia riset juga menjadi bagian cukup melekat. Ketika menyebutkan namanya  terbayang dibenak kita beliau adalah sosok pendidik, peneliti dan sekaligus seorang organisatoris. Ketiga keahlian ini mampu digerakkan secara bersamaan dan menjadi kekuatan diri Pak Abbas kemudian berkontribusi besar tidak saja dalam dunia pendidikan dan riset tetapi juga terhadap organisasi NU di Sumut

Sebagai seorang anak desa dari Penyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tentunya tidak pernah terbayangkan olehnya untuk mengbdikan dirinya dalam ketiga profesi mulia dimaksud. Apalagi sebagai seorang anak kampung  sederhana, ekonomi orang tua relatif sederhana dan lingkungan masyarakat sekitar yang bersahaja. Namun  kegigihan dan keuletan menjadi modal utama meraih itu semuanya. Pengasahan pendidikannya dimulai dari Sekolah Dasar Negeri (1963) kemudian dilanjutkan  Tsanawiyah dan Aliyah Swasta di Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Mandailing (1969). Pendidikan  pada tingkat Dasar,  Menengah dan Atas membentuk dia sebagai santri Mustafawiyah Purba Baru sebuah pesantren tua cukup dikenal di negeri ini. Berikutnya melanjutkan pendidikan di Fakultas Usuluddin IAIN Imam Bonjol  Padang Sidempuan sampai tingkat dua (1971) dan dilanjutkan pendidikan sarjana pindah kuliah di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1972 hingga memperoleh Sarjana Muda tahun 1974 dan Sarjana Lengkap tahun 1977. 

Selama menjadi seorang mahasiswa di Yogyakarta, bukanlah hal sulit baginya untuk beradaptasi di lingkungan komunitas Jawa seperti Yogyakarta apalagi kebayakan mahasiswa mayoritas suku Jawa. Namun potensi dan kemampuan dimiliki Abbas junior, mampu menjadikannya bersahabat dengan lingkungannya hingga mengantarkan beliau menjadi tokoh mahasiswa yang notabenenya sulit bagi seseorang berlatang belakang suku minoritas seperti orang  Mandailing di tengah mayoritas orang suku Jawa. Dalam perjalanannya sebagai mahasiswa beliau mampu menduduki jabatan Ketua Komisariat Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) IAIN Sunan Kalijaga sebagai sebuah organisasi besar di tingkat mahasiswa. Ekspektasinya semakain terukur ketika menjabat Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Adab dan Ketua Umum Dewan Mahasiswa (DEMA) IAIN Sunan Kali Jaga tahun 1975 – 1977, sebuah pencapaian besar pada tingkat mahasiswa sungguh didambakan setiap mahasiswa manapun. Anak Sumatera ini pun dikenal, populer  dan disegani tidak saja di almamaternya, tetapi di kalangan tokoh – tokoh mahasiswa Perguruan Tinggi di Yokyakarta. Dalam dirinya mengalirkan kader pergerakan (PMII) yang berorientasi kepada zikir, pikir dan amal menjadikan dirinya matang sebagai seorang mahasiswa dan alumni.

Pendidik dan Peneliti

Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Lengkap di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abbas menentukan arah penting dalam hidupnya yakni kemana akan mengabdikan dirinya pasca kesarjanaannya. Pilihan itupun beliau jatuhkan sebagai pendidik sebagai sebagai tenaga pengajar di IAIN Sumut hingga menjelang pensiunnya sebagai dosen di UIN Sumut. Beliau fokus dan concern dalam bidang ini yang sungguh berbeda jika dibandingkan dengan kawan – kawannya sesama pernah aktifis kebanyakan lebih menekuni sebagai seorang politisi di negeri ini.  Beliau  menyadari menjadi pendidik adalah pilihan hidupnya, menstranferkan ilmu yang dimiliki sebagai sikap mulia memiliki nilai transendental tinggi guna pembentukan dan pembangunan kecerdasan anak bangsa. Beliau tampil sebagai agen of change dalam pembentukan peradaban pendidikan Islam, dimana kekuatan pendidikan menjadi hal utama. Bangsa yang beradab tentunya selalu berkontribusi dan memberikan space khusus untuk pendidikan, walau kecilnya space tersebut. Karena kedua hal ini berbanding lurus, antara pendidikan dan peradaban. Semakin banyak ruang untuk pendidikan maka semakin tinggi peradaban akan diukir. Abbas menjadi salah satu anak bangsa telah mengukir peradaban dalam sejarah kehidupannya. Tidak terhitung sudah sarjana yang dilahirkannya kemudian menjadi tokoh berkontribusi kepada daerah dan bangsa ini. Dengan sentuhan  halus dan sikap yang tenang, jiwa dan penampilan seorang tokoh pendidik berwibawa, bijaksana dan berhasil benar – benar ada pada Abbas Pulungan.

Pencapaian diri beliau semakin mantap ketika dianugerahkan menjadi salah seorang Guru Besar (Gubes) di IAIN Sumut, sebuah prestasi puncak dari perjalanan karirnya seorang dosen yang terkadang tidak semua dosen mendapatkan prestasi tersebut senantiasa diimpikan menjadi profesor. Gubes merupakan gelar akademik tertinggi yang diberikan kepada seorang tenaga pendidik, karena jasanya dalam dunia pendidikan, sekaligus bagi masyarakat, negara bahkan dunia.  Pencapaian ini tidak mudah serta selalu diiringi kerja keras dan panjang. Untuk menjadi Gubes, seseorang harus menghasilkan penelitian dengan  “impact faktor”  dimaksudkan karya ilmiah seorang guru besar harus memberi dampak pada bidang keilmuan yang ditekuninya, bukan hanya pada kehidupan, begitupula tantangan  dalam dunia pendidikan. Tanggung jawab seorang Gubes cukup besar, tidak hanya pada institusi pendidikan, namun juga kepada masyarakat dan negara. Tidak hanya sekedar diwajibkan mendidik dan melakukan penelitian semata, namun lebih dari itu pada mereka diwajibkan menyumbangkan tenaga pikiran dan dimanapun untuk kemajuan bangsa.

Panggilan Prof  kemudian melekat dalam diri Abbas  sebagai Gubes membidangi keilmuan diampunya. Keseriusannya semakin terukur dalam meningkatkan kualitas dirinya juga SDM universitasnya. Prof Abbas terus berkarya tidak saja sebagai pendidik tetapi juga mengabdikan dirinya sebagai peneliti terutama peneliti bidang pendidikan.  Beliau menyadari andil seorang peneliti begitu pening dan strategis guna memecahkan masalah – masalah pendidikan terutama yang yang berkitan dengan kulaitas proses pendidikan dan pengajaran kualitas atau mutu hasil pendidikan, efisiensi dan efektifitas pendidikan, relefansi pendidikan dan lain. Tidak sampai disitu kajian – kajian sejarah juga menjadi perhatian beliau. Disini beliau menemukam akan pengetahuan tentang kejelasan petistiwa yang pernah terjadi agar peristiwa tersebut mendapatkan penjelasan akurat, karena sejarah memiliki konsep heuristik, kritik, iterpretasi dan historiografi. 

Perpaduan pendidik dan peneliti mewujudkan Prof Abbas tidak saja sebagai seorang teorisasi  tetapi juga praktisi beliau matang dan handal di bidangnya. Berbagai karya beliau yang kemudian  menjadi ukuran bagian dari keberhasilannya memadukan itu. Karya – karya beliau begitu menarik untuk dibaca, apalagi berbagai penelitian yang dilakukan bersentuhan dengan aspek sejarah, sosial dan pendidikan di masyarakat,  beliau eksplorasi dan kupas secara komprehensif. Diantara menjadi karya beliau adalah Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Mandailing (2020), Islam di Kepulauan Nias Sebuah Pulau  Terluar di Indonesia (2016) dan karya lainnya menghiasi wujud eksistensi beliau sebagai peneliti ataupun penulis.

Memimpin Organisasi Besar

Sebagai seorang nahdliyin berbasis santri ditambah dengan berbagai pengalaman mimimpin organisasi kemahasiswaan seperti PMII,  menjadikan beliau cakap dalam memimpin, sehingga ketika beliau ditunjuk sebagai Ketua Tanfidziah organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) di provinsi Sumatera Utara (Sumut) bukanlah hal yang sulit bagi beliau apalagi dihadapkan dengan tantangan sifatnya global. Sebagai Ketua Tanfidziah PW NU Sumut pertumbuhan dan perkembangan NU pada saat itu menjadi tantangan beliau yang harus dilakukan. NU dihadirkan untuk mengimplementasikan berlakunya ajaran Islam yang menganut paham Ahlusunnah Wal Jamaah  dan terwujudnya  tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat khususnya di daerah Sumut. Untuk mewujudkan tujuan di atas, PW NU Sumut di bawah kepemimpinan Prof Abbas,  harus melaksanakan usaha – usaha sebagai berikut : Pertama, bidang agama, mengupayakan terlaksananya ajaran Islam yang menganut paham ahli sunnah wal jamaah dan menurut salah satu mazhab empat dalam masyarakat dengan melaksanakan dakwah islamiyah dan amar makruf nahi munkar. Kedua, bidang pendidikan, pengajaran dan kebudayaan, mengupayakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pengejaran serta pengemangan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam untuk membina umat agar menjadi muslim yang bertaqwa, berbudi luhur dan terampil serta berguna bagi agama, bangsa dan negara. Ketiga, bidang sosial, mengupayakan terwujudnya kesejahteraan  lahir dan bathin bagi rakyat Indonesia. Keempat, bidang ekonomi mengupayakan terwujudnya pembangunan ekonomi untuk pemerataan kesempatan berusaha dan menikmati hasil – hasil pembangunan dengan mengutamakan tumbuh dan kembang ekonomi kerakyatan. Kelima, mengembangkan usaha – usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat banyak guna terwujudnya khairoh ummah.

Memimpin organisasi besar seperti NU tidaklah semudah dibayangkan, jika tidak memiliki talenta  manajerial yang kuat. Karena disini ada kemampuan memadukan visi misi ketuhanan dan juga kemanusiaan. Harapan umat cukup besar menjadi pundak yang harus dilakukan bagi seorang leader dalam memimpin nahdliyinnya. Kapasitas pemimpin ini harus benar teruji dan terukur dengan berbagai indikator penting. Jika tidak akan memberikan kemafsadatan bagi diri dan komunitasnya. Disinilah seorang pemimpin harus mampu meletakkan dirinya dan mempunyai kapasitas  apa yang dipimpinnya. Apa yang dilakukan Prof Abbas telah  mewujudkan dirinya menjadi Ketua Tanfidziah NU Sumut untuk semua golongan dan suku. Dalam dirinya melekat kecerdasan atau intelligence meliputi kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spritual (SQ). Potensi ini menjadi kekuatan tersendiri dalam mengembangkan NU di daerah ini. Di tengah beratnya tantangan NU  seiring dengan perkembangan zaman yang kompetitif, sudah pasti inovasi menjadi kunci keberhasilan untuk menguasai persaingan tersebut.

Terdapat tiga hal menjadi tantangan besar bagi NU dimanapun berada termasuk di daerah Sumut. Pertama, penguasaan teknologi digital sebagai instrumen dakwah masa kini dan dan masa depan. Misalnya penggunaan media sosial yang saat ini dipandang strategis sebagai alternatif dakwah konvensional. Karena melalui dakwah seperti ini memudahkan masyarakat mendengar dan menyimak kapan saja dan waktunya lebih flexibel terutama untuk generasi  milenial.  Bagi NU masih dirasakan belum maksimal penggunaan alat dakwah teknologi digital seperti ini. Kedua, gerakan pembangunan ekonomi umat khususnya kalangan warga nahdliyin  dirasakan belum maksimal. Tingkat ekonomi masayarakat warga nahdliyin belum merata pada posisi membangkitkan ekonomi keluarga, ini menjadi tantangan besar yang harus digerakkan oleh pengurus NU dimanapun ia berada. Ketiga, pengembagan pendidikan baik diniyah maupun pendidikan umum termasuk pendidikan pesantren dan pendidikan tinggi guna penguatan akidah dan syariah dengan penguatan lembaga pendidikan NU sehingga dapat menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, menguasai teknologi dan inovatif. Agenda besar ini menjadi tanggung jawab pengurus NU termasuk di Sumut yang terus menerus dilakukan dalam menciptakan kekuatan umat khususnya warga nahdliyin. Prof Abbas tampil untuk itu menyatukan potensi pengurus, bersama  - sama mengakomodir yang menjadi kebutuhan warga nahdliyin di Sumut. Gerakan perubahan harus dilakukan yang sebenarnya tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi harus digerakkan. Kemampuan sebagai pendidik dan peneliti berbasis aktifis menjadi kekuatan dalam memimpin NU. Masa kepemimpinan beliau menjadikan NU semakin bergerak secara pelan – pelan mengakomodir perubahan besar tersebut.

Penutup

Ketika talenta pendidik, peneliti dan aktifis/organisatoris disatukan, menjadikan kekuatan terhadap Prof Abbas dan space di UIN Sumut serta masyarakatnya. Kekuatan talenta tersebut berkontribusi besar terhadap sumbangan peradaban pendidikan di Sumut dan cukup kami rasakan sebagai generasi penerus Bapak. Jasa yang sudah Bapak torehkan tidak akan pernah lapuk apalagi hilang, justru akan abadi seiring terbangunnya peradaban pendidikan Islam di daerah ini. Kami berkeyakinan meski akan/telah memasuki masa pensiun, pergerakan Bapak tidak akan pernah surut karena dalam tubuh Bapak pergerakan itu telah tertanam dan terus bergelora untuk kemudian melakukan berbagai kreatifitas kehidupan bermanfaat untuk umat. Selamat Jalan Senior, Semoga Engkau Ditempatkan Allah Pada Tempat Terbaik di Sisi-Nya..

Penulis Adalah Dr. Nispul Khoiri M.Ag Ketua PW Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Provinsi Sumatera Utara 

 




Share on WhatsApp

VIP Redaksi KAPITAnews.com

Situs Berita Online
https://www.kapitanews.com/
"Pusat Berita Terpercaya"
Ph:0853-7100-0720

0 komentar:

Posting Komentar